Memberi Telinga Untuk Mendengar

Hari ini aku berkenalan dengan Frau Kunel di sebuah rumah Panti Jompo di kota aku tinggal. Beliau berusia 86 tahun, wajahnya putih halus berambut putih keperakan. Tubuhnya agak gemuk, pancaran wajahnya simpatik. Kedua mata ibu Kunel sudah tidak dapat berfungsi untuk mellihat dengan jelas lagi. Pandangannya semua hitam dan samar-samar katanya!  Mata kanan sudah tidak berfungsi sama sekali, sedangkam mata sebelah kiri masih berfungsi 2 persen, sejak terakhir kali th 2009, mata sebelah kiri dioperasi karena penyakit “Star”.  Bila berjalan beliau menggunakan Rollator, seseorang harus selalu mendampinginya untuk memberi aba-aba lurus, belok kanan atau belok kiri hingga mencapai kamar beliau di tingkat 3.

Perkenalan singkat dengan ibu Kunel langsung berjalan dengan baik. Beliau banyak bercerita tentang sejarah keluarganya, tentang derita penyakit diabetesnya yang menghinggapinya semenjak beliau berusia 37 tahun, tentang operasi kedua matanya yang terkena penyakit “Star”, tentang operasi jantung by pass, tentang kedua anaknya, seorang anak perempuan berprofesi dokter yang sekarang berusia 62 tahun dan seorang anak lakinya yang kini berusia 61 tahun. Tentang perkawinan anak lakinya yang kandas, ketika usia perkawinannya berusia lima tahun dan dikaruniakan dua orang anak, tiba-tiba menantu perempuannya ingin berpisah dengan anak lakinya alias bercerai, semata-mata karena menantu menginginkan “rente” suaminya yang notabene adalah anak lakinya. Perceraian tidak dapat dicegah. Kemudian kedua cucunya itu diasuh oleh ibunya (ex. menantu perempuan). Namun ex. menantu tidak mendapatkan “rente” suaminya (anak laki beliau), tetapi mendapat tunjangan kehidupan untuk kedua anaknya (cucu beliau). Saat ini anak lakinya sedang berbaring di rumah sakit karena menderita penyakit neurodermitis yang sudah parah. Sangat menyedihkan kehidupan anak lakinya, begitu cerita beliau sebagai seorang ibu turut merasakan penderitaan anaknya.

Ketika bercerita tentang suaminya, ibu Kunel sempat menangis sebentar. Banyak kesedihan yang dilalui bersama. Beliau hafal semua detail kejadian, kapan terjadinya, tanggal, bulan dan tahun setiap peristiwa terekam baik dalam ingatannya. Ibu Kunel bercerita bahwa perbedaan usia ibu Kunel dengan suaminya adalah 18 tahun. Ketika suaminya meninggal karena serangan jantung, ibu Kunel berusia 49 tahun. Pada hari yang sama, ibu Kunel mendapatkan seorang cucu dari anak lakinya. Betapa sedihnya, mengapa suamiku pergi tanpa sempat menunggu dan melihat cucu yang lahir. Mengapa harinya berbarengan? Sungguh sedih sekali, begitu cerita ibu Kunel sambil mengucurkan airmata.

Aku terdiam mendengarkan dan berusaha menenangkan perasaan ibu Kunel dengan mengusap-usap lengannya. Kemudian beliau melanjutkan ceritanya, setelah kematian suaminya, beliau berkenalan dengan seorang duda beranak dua. Istri duda tersebut meninggal karena sakit kanker. Perkenalan semakin akrab dan mereka sering bertemu dan jalan-jalan keluar negeri berdua. Tema percakapan mereka berdua berkisar melulu tentang penyakit yang diderita oleh ex. pasangan mereka yang keduanya sudah meninggal. Sang duda bercerita tentang penyakit ex. istrinya, sedangkan ibu Kunel bercerita tentang penyakit jantung yang diderita ex. suaminya.  Hubungan mereka berdua sudah layaknya bagai suami istri. Mereka berdua merasa cocok sekali. Namun tiba-tiba suatu hari teman pria ibu Kunel menderita suatu penyakit yang sedemikian sakitnya tak tertahankan. Setelah diperiksa dengan teliti oleh beberapa dokter ahli, ternyata teman pria ibu Kunel menderita kanker!  Betapa sedihnya ibu Kunel, ketika berobat ke dokter dan di rumah sakit setiap saat ibu Kunel mendampingi teman prianya. Hingga suatu hari seorang pastor dari gereja Katolik mengunjungi teman prianya di rumah sakit dan berbincang-bincang dengan mereka berdua. Dari perbincangan itu ibu Kunel menangkap suatu pengertian bahwa tidak baik hubungan mereka berdua itu, karena mereka bukan suami-istri, mereka adalah orang lain satu sama lain, tetapi ibu Kunel berlaku layaknya seperti seorang istri bagi pria temannya itu, menunggui, menemani ketika sedang sakit.  Hubungan sebagai suami-istri merupakan suatu kesatuan, susah senang ditanggung bersama. Oleh sebab itu tak lama setelah teman prianya diperbolehkan kembali ke rumah, mereka melangsungkan perkawinan secara sah di catatan sipil. Namun malang tak dapat ditolak, setelah sah menjadi suami ibu Kunel, 6 minggu kemudian suami keduanya meninggal dunia!

Begitulah cerita ibu Kunel mengenai sejarah keluarganya. Aku merasakan bahwa ibu Kunel membutuhkan seorang yang mau mendengarkan suara duka hatinya yang sudah lama dipendamnya sendirian. Semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ibu Kunel sangat menyedihkan, namun beliau mengatakan apa boleh buat, beliau tidak dapat menghindarinya, semua harus dihadapi dan dilaluinya. Beliau harus tetap bertahan hidup! Ucapannya yang terakhir itu sungguh menyatakan ketegaran hatinya! Akupun takjub dan kembali belajar bersyukur untuk segala hal yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan semua orang yang percaya kepadaNya, adalah demi kebaikan semata!

Aku berjanji kepada ibu Kunel, akan datang kembali besok pagi, untuk membacakan berita surat kabar untuknya!  Kiranya aku boleh menjadi mata untuknya dan boleh menjadi berkat bagi orang lain dan mensyukuri atas berkat-berkat yang Tuhan limpahkan dan karuniakan kepada diriku dan kepada orang lain yang membutuhkannya.

Salam baca dan tulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s