Memberi Mata Untuk Melihat dan Membaca

Seperti yang telah aku janjikan kemarin, hari ini aku datang kembali menjenguk ibu Kunel di rumah Panti Jompo, karena aku akan membacakan berita surat kabar hari ini kepada ibu Kunel, yang kedua matanya buta.

Aku menemui ibu Kunel di ruang makan. Beliau baru saja selesai sarapan pagi. Di atas meja makan bundar yang besar itu, kira-kira 30 cm jarak dari tepi meja ditempel stiker nama bagi 6 orang yang masing-masing duduk mengitari meja bundar itu. Aku mengambil bangku kecil di pojok ruangan dan menempatkannya berdekatan dengan tempat duduk ibu Kunel, supaya beliau dapat mendengar dengan baik bila aku membacakan berita surat kabar kepadanya. Kami berbincang-bincang sebentar. Kemudian beliau minta dibacakan berita mengenai politik.

Pada halaman pertama terpampang judul berita tentang pemilihan ketua partai baru yang akan dilaksanakan pada musim gugur di tahun 2013. Aku bacakan judulnya, dan itulah tema yang menarik buat beliau. Maka aku mulai membaca perlahan-lahan. Setiap kali aku selesai membaca satu paragraf aku bertanya kepada beliau, apakah beliau cukup jelas menangkap setiap kata yang aku ucapkan. Ternyata tidak ada kesulitan, setiap kalimat yang aku bacakan dapat dimengerti dengan baik oleh beliau. Setiap aku selesai membacakan satu topik berita, aku membahas ulang dengan mendiskusikannya secara ringan. Ternyata beliau sangat tanggap dan beliau sangat menguasai situasi politik di negara kelahirannya ini (Jerman) dengan sangat baik, malah lebih baik daripada aku.

Akhirnya hari itu aku telah berhasil dengan baik membacakan berita surat kabar kepada ibu Kunel, dengan tiga topik yang berbeda namun semuanya mengenai politik. Yaitu satu, mengenai pemilihan ketua partai baru di negara bagian Jerman yang akan berlangsung pada musim gugur pada tahun 2013. Kedua, mengenai krisis keuangan di Jerman. Ketiga, mengenai perdebatan antara Presiden USA Barack Obama melawan kandidat Mitt Romney.

Hari ini ibu Kunel merasa senang, banyak tertawa dan banyak bercerita macam-macam mengenai kedua anaknya, mengenai sakitnya dan mengenai masa mudanya! Walaupun cerita tersebut bagiku merupakan pengulangan cerita, namun aku mendengarkannya seolah baru pertama kali aku mendengar cerita itu darinya.

Kemudian beliau cerita tentang seorang ibu tua yang berumur 102 tahun, yang tempat duduknya pada meja makan bundar ini berada persis disebelah kanannya, katanya ibu itu selalu menyebut diri beliau sebagai “ibu Kunel yang matanya buta”. Mendengar julukan itu ibu Kunel kurang suka, karena menurut beliau matanya tidak buta sama sekali, masih bisa melihat samar-samar benda-benda yang gelap, misalnya handuk biru tua, gelas biru tua. Hanya warna bening dan warna putih, misalnya gelas bening diisi air putih, tidak bisa terlihat lagi oleh matanya.  Walaupun kedua matanya memang nyaris sudah buta, namum beliau merasa tersayat dan sedih hatinya bila orang menyebut dirinya “ibu Kunel yang buta matanya”.

Aku diam saja mendengarkan dan tidak memberi komentar apa-apa kuatir salah bicara malah menambah sedih hatinya. Aku merasakan bahwa setiap orang mempunyai masalah yang berat, yang orang lain tidak tahu bagaimana rasa beratnya menanggungnya. Orang hanya melihat dari luar saja dan mudah mengatakan kata-kata yang meringankan atau meremehkan perasaan orang yang sedang menanggung beban berat penderitaannya. Aku belajar agar selalu tidak cepat bicara, tidak menggampangkan. Lebih baik aku diam dan turut belajar merasakan bagaimana perasaan orang yang lagi susah, bagaimana perasaan orang yang lagi tersinggung, bagaimana perasaaan orang yang merasa tidak berdaya karena penyakit yang diderita tidak bisa disembuhkan lagi…

Hari ini aku bersyukur mendapat kesempatan mendengar kisah ketegaran semangat hidup ibu Kunel di tengah penderitaannya, aku bersyukur dapat melihat ibu Kunel tertawa gembira, aku bersyukur melihat ibu Kunel bersemangat berdiskusi tentang politik setelah mendengar berita dari surat kabar, aku bersyukur boleh menggunakan mataku dan mulutku untuk berbagi kepada orang lain, sebagai mata bagi ibu Kunel.  Aku bersyukur boleh berbagi kemampuanku kepada orang lain.

Kiranya Tuhan selalu menyertai dan memberikan pertolongan kepada setiap orang yang percaya kepadaNya, agar tetap berpegang teguh kepada pengharapan di dalam Tuhan, karena semua ada dalam rencana kebaikan Tuhan semata.

Salam baca dan tulis

19-10-2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s