(Catatan Rohani) WAHYU ALLAH SEBELUM MANUSIA JATUH DALAM DOSA

Sebagai manusia yang diciptakan dalam gambar Allah, Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui:

I) Alam semesta – sebagai wahyu umum

II) Firman-Nya sendiri – sebagai wahyu khusus

 

I) WAHYU UMUM

Wahyu Allah itu ada didalam seluruh ciptaan Allah, termasuk juga manusia dan didalam diri manusia itu sendiri juga ditanamkan wahyu umum.

Melalui alam semesta manusia belajar mengenai Allah didalam keberadaan-Nya, hikmat Allah, keilahian Allah, juga kekuasaan Allah, kemaha-kuasaan Allah.

Didalam diri manusia ditanamkan wahyu umum, yaitu dia memiliki

1) HATI NURANI

Hati nurani adalah hukum-hukum Allah yang ditanamkan oleh Allah didalam hati manusia, sehingga tanpa diberitahu, manusia dapat mengetahui ini benar atau ini salah. Ini kondisi hati manusia pertama sebelum kejatuhan dalam dosa. Jadi hukum-hukum moral dari Allah sudah ditanamkan dalam hati manusia itu seperti: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri .. dan seterusnya, karena waktu itu kondisi manusia pertama masih baik sehingga hukum-hukum Allah, hukum moral yang umum sudah diketahui oleh manusia pertama dengan sendirinya.

2) SENSE OF DEITY = Manusia ada kesadaran mengenai Penciptanya didalam dirinya.

Adam dan Hawa didalam hatinya sudah memiliki kesadaran akan keberadaan Allah, tidak perlu bukti macam-macam, pokoknya dia sadar akan Penciptanya dan dia ingin selalu dekat dengan Allah. Hati nurani untuk mengingatkan dia mana yang benar dan mana yang salah, sehingga dia mau menyembah Allah, mau berbakti kepada Allah. Kondisi yang seperti ini menjadikan manusia sebagai mahluk bermoral mempunyai kesadaran moral yang sempurna. Jadi dengan hati nurani dan sense of deity manusia memiliki kesadaran moral yang sempurna didalam dirinya. Dia sebagai mahluk yang berdiri secara langsung dihadapan Allah, dia harus bertanggung-jawab atas segala perbuatannya, memilih segala tindak-tanduknya berdasarkan kesadaran yang betul-betul penuh pengetahuan, didalamnya ada kebenaran dan mengandung hikmat.

II) WAHYU KHUSUS

Pada waktu manusia pertama diciptakan, Allah berbicara kepada manusia secara berhadapan muka, tidak melalui kitab suci.

Wahyu khusus kepada manusia berfungsi untuk memberi arti/tujuan kepada wahyu umum. Jadi kalau manusia melihat alam semesta (= wahyu umum). Sekarang bagaimana dia mengerti artinya alam semesta itu diciptakan? Itu wahyu khusus, yang tidak dimengerti oleh wahyu umum.

Allah berbicara secara langsung maksudnya alam semesta ini diciptakan untuk apa? Lalu Allah berfirman: berkembang biaklah, penuhilah bumi ….dan seterusnya  = ini wahyu khusus. Untuk interpretasi terhadap alam semesta dan segala ciptaan Allah, juga terhadap dirinya sendiri sebagai ciptaan Allah, untuk mengerti artinya itu apa sebagai manusia, artinya apa alam semesta, tujuannya untuk apa? Bagaimana mengerti segala sesuatu itu, kuncinya ada didalam wahyu khusus.

Kalau tidak ada wahyu khusus, manusia tidak dapat mengetahui apa tujuan dirinya berada, apa tujuan diciptakannya alam semesta.

Wahyu khusus didalam hal kehendak Allah secara personal diberikan didalam wahyu khusus saja. Jadi didalam wahyu umum kehendak Allah yang umum, itu diketahui. Tetapi secara personal, sifat personalnya Allah punya mau apa, hanya dapat diketahui oleh wahyu khusus.

Jadi Adam + Hawa waktu berhadapan dengan Allah sudah mengetahui tidak boleh ini, tidak boleh itu, tetapi kemauan pribadi Allah secara personal untuk misalnya dipanggil, untuk dekat atu untuk mengurus apa, itu tidak bisa diketahui tanpa wahyu khusus. Jadi pengetahuan baik dan jahat sampai tahap tertentu mandek.

Pengetahuan pribadi tentang Allah, dirinya Allah seperti apa, itu melalui wahyu khusus. Dirinya Allah itu siapa, kemauan Allah secara khusus itu apa? Ini hanya dapat diketahui melalui wahyu khusus.

Misalnya:

Kita tahu kemauan atau cara makan suami bagaimana, tetapi hari ini dia makan apa, perlu wahyu khusus! Jadi hal-hal umum tentang suami, sudah dikenal, tetapi wahyu khusus itu hal pribadi. Siapa suami saya, bagaimana karakternya, ini semua tidak diketahui bila dia tidak mengatakannya secara pribadi.

Jadi wahyu khusus terhadap Adam dan Hawa diberikan supaya mereka mengenal/mengetahui pribadi Allah itu apa dan bagaimana.

Pengetahuan tentang yang baik dan jahat pun didalam wahyu umum ada batasnya. Tetapi didalam wahyu khusus, Allah menyediakan tempat yang tidak dimiliki oleh wahyu umum. Jadi pengetahuan baik dan jahat itu pada hakekatnya, manusia bisa mengenal baik dan jahat itu adalah melalui 2 hal yaitu: wahyu umum dan wahyu khusus. Tetapi tingkat wahyu umum itu terbatas, sedangkan wahyu khusus itu melampaui wahyu umum.

Untuk hal ini pengetahuan yang baik dan jahat tidak dimiliki oleh manusia didalam kodrat dirinya sendiri, dia harus diberikan melalui wahyu khusus, maka dari itu sifat pengetahuan yang baik dan jahat ada bagian-bagian yang bersifat harus dinyatakan oleh Allah, tidak asli dari dalam dirinya tetapi dinyatakan, non original. Baik dan jahat itu seluruhnya, baik yang didalam dirinya maupun yang dinyatakan secara langsung baik wahyu umum maupun wahyu khusus itu sifatnya adalah ditentukan oleh Allah sendiri.

Jadi pengetahuan baik dan jahat tidak berdasarkan pertimbangan manusia sendiri, tetapi berdasarkan pada ketetapan Allah, ini baik maka ini baik, itu jahat maka itu jahat, ini benar maka benar, ini salah maka itu salah – ketentuannya terletak ditangan Allah saja.

Jadi kodrat manusia itu hanya menyetujui apa yang Allah katakana itu baik maka itu baik, maka manusia percaya kepada apa yang Allah katakana. Jadi disini manusia berperan pasif, hanya mengakui saja, beriman saja pada apa yang dikatakan Allah, benar ya benar, salah ya salah.

Jadi wahyu khusus itu hanya disampaikan dari mulut Allah secara langsung bukan melalui apa yang sudah ditanamkan didalam hati. Ditanamkan dalam hati ya dari Allah juga, ditentukan oelh Allah, hati nuraninya mempunyai pertimbangan hokum seperti apa juga ditentukan oleh Allah.

Dalam kondisi manusia sebagai gambar Allah dengan wahyu umum dan wahyu khusus maka hidup sejati didalam diri manusia yang pertama adalah didalam relasi personal yang intim tanpa ada jarak. Ada hubungan batin antara Bapa dengan Adam, Bapa mengenal Adam.

Tujuan Allah dengan relasi yang sedemikian intimnya supaya manusia bisa berbakti menyembah Allah. Supaya bisa bersekutu dengan Allah dan merefleksikan diri segambar dengan Allah ditengah-tengah alam semesta.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s