Konflik dalam rumah tangga

Streiten-goethe

(Dalam hubungan relasi partnership kadang-kadang orang harus bertengkar, karena dari pertengkaran itu masing-masing mengetahui sesuatu lebih banyak dari pasangannya).

Setiap orang pasti memiliki masalah. Dalam berkeluarga, masalah dan konfilk adalah hal yang wajar dan normal. Persoalan menjadi besar jika tidak dapat menghadapi masalah serta konflik dengan benar. Sebagian orang masih ada yang percaya pada mitos-mitos bahwa keluarga bahagia pasti tidak mempunyai konflik-konflik, bahwa konflik adalah bahaya bagi pernikahan, bahwa konfilk adalah pertanda bahwa rumahtangga telah kehilangan kehangatan cinta, bahwa konflik adalah awal sebuah ketidak-cocokan. Nah itu semuanya adalah pernyataan mitos, atau istilah masa kini setara dengan HOAX, berita tidak benar yang beredar di masyarakat. 

Demi memperoleh kebahagiaan berumah-tangga, orang harus memperjuangkannya terus menerus, jangan mudah menyerah. Bahagia tidak datang sendiri, tidak datang dari orang lain, diri sendiri harus mengusahakannya.

Pada awal-awal saya hidup berumahtangga, perjalanannya tidak mulus, banyak menemukan masalah dan konflik. Saya juga tidak bisa menghindari pertengkaran. Misalnya soal kecil yang sehari-hari, cuci piring, vacuum karpet, belanja, kebersihan rumah dan lain sebagainya, semua itu sepertinya bukan masalah, tetapi bisa menjadi masalah, bila tidak ada pembagian tugas kerja yang jelas dalam rumah tangga. Ditambah lagi dengan kejadian sehari-hari, soal kebiasaan masing-masing yang berbeda, perbedaan cara berpikir, sikap dan cara melihat, menghadapi dan menangani suatu masalah.

Jika sudah lelah bertengkar tetapi tidak ada yang dapat diambil sebagai pelajaran oleh masing-masing pasangan, dirasakan masalah tetap saja tidak terpecahkan, semuanya tetap tak berubah, sebaiknya berhenti bertengkar! Namun jangan menyerah! Segera cari jalan lain. Libatkan orang lain yang dapat dipercaya untuk dimintai pendapat dan nasehat, misalnya menghubungi marriage counselor.

Jangan lupa berdoa terus. Sebaiknya tidak menimbun masalah sampai menumpuk, lama-kelamaan menciptakan bom waktu, kebencian, dendam dan ketawaran hati.