I Want to Marry You :-)

Melihat sekilas pertunjukan Video ini, tentunya kesan orang berbeda-beda. Kelihatannya lucu sekali, membuat orang tersenyum dan tertawa geli. Tetapi bila disimak dengan seksama, ternyata tidak lucu sama sekali.

Apa motivasi si ibu membuat rekaman tersebut, apakah hanya untuk lucu-lucuan saja? Mungkin tidak terpikirkan apa dampaknya untuk hari-hari selanjutnya, seandainya skenario permainan semacam itu diulang-ulang dengan pelaku yang sama, “kakak dan adik” dimana anak seumuran gitu, sama sekali kan belum mengerti apa arti “marriage”. Dilihat dari segi usia memang anak kecil masih tidak tahu apa-apa, tetapi dilihat dari segi emosinya yang masih polos dan terus bertumbuh kembang seorang anak kecilpun mempunyai ego. Dimana disini terlihat sang kakak menunjukkan egonya yang tidak mau menuruti keinginan sang adik. Juga ego sang adik yang keinginannya ingin dituruti dan disetujui.

Sang kakak menyatakan protesnya, mengapa sang ibu menyuruh adiknya mengatakan hal itu kepadanya, sang kakak merasa bahwa sang ibulah yang memberi kuasa kepada sang adik untuk memaksakan kehendaknya kepada sang kakak! Sang kakak merasakan bila bukan karena ibunya mengapa sang adik menyatakan keinginan seperti itu?  Mengapa ibunya membiarkan sang adik menindas ego nya, sikap protes sang kakak sekaligus seolah memohon agar ibunya bertindak membela situasinya, tetapi malah ibunya membiarkan saja… sampai sang kakak menangis begitu sedihnya .. :-))

Memang kesan nya demikian,  sang ibu memberi dukungan kepada sang adik untuk memaksakan kehendaknya kepada sang kakak, sampai membuat si kakak jengkel setengah mati. Itu anak kecil sudah dapat merasakannya.

Jikalau sejak kecil sang putri telah dilatih dan diarahkan sedemikian rupa mempermainkan emosi kakaknya dengan gigih dan atas petunjuk dan persetujuan sang ibu, dibenarkan pula oleh sang ibu, kemungkinan kebiasaan itu akan membentuk karakter sang adik kelak menjadi dewasa sebagai seorang yang gigih memaksakan kehendak dan keinginannya terhadap orang lain, sebaliknya sang kakak akan merasa selalu dipojokkan😦

Dibalik rekaman yang kelihatannya lucu ini tanpa  disadari adalah juga merupakan penganiayaan emosi (emotional abusing)  secara halus terhadap perasaan seorang anak kecil yang masih lugu, di dalam keluarga!

***